Monday, December 8, 2014

Kebudayaan


Budaya Jawa adalah budaya yang berasal dari Jawa dan dianut oleh masyarakat Jawa khususnya di Jawa TengahDIY dan Jawa Timur. Budaya Jawa secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 yaitu budaya Banyumasan, budaya Jawa Tengah-DIY dan budaya Jawa Timur. Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan keserasian dalam kehidupan sehari hari. Budaya Jawa menjunjung tinggi kesopanan dan kesederhanaan. Budaya Jawa selain terdapat di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur terdapat juga di daerah perantauan orang Jawa yaitu di Jakarta,Sumatera dan Suriname. Bahkan budaya Jawa termasuk salah satu budaya di Indonesia yang paling banyak diminati di luar negeri. Beberapa budaya Jawa yang diminati di luar negeri adalah Wayang KulitKerisBatikKebaya dan Gamelan. Di Malaysia dan Filipina dikenal istilah keris karena pengaruh Majapahit. LSM Kampung Halaman dari Yogyakarta yang menggunakan wayang remaja adalah LSM Asia pertama yang menerima penghargaan seni dari Amerika Serikat tahun 2011. Gamelan Jawa menjadi pelajaran wajib di AS, Singapura dan Selandia Baru. Gamelan Jawa rutin digelar di AS dan Eropa atas permintaan warga AS dan Eropa. Sastra Jawa Negarakretagama menjadi satu satunya karya sastra Indonesia yang diakui UNESCO sebagai Memori Dunia. Menurut Guru Besar Arkeologi Asia Tenggara National University of Singapore John N. Miksic jangkauan kekuasaan Majapahit meliputi Sumatera dan Singapura bahkan Thailand yang dibuktikan dengan pengaruh kebudayaan, corak bangunan, candi, patung dan seni. Bahkan banyak negara di dunia terutama Amerika dan Eropamenyebut Jawa identik kopi. Budaya Jawa termasuk unik karena membagi tingkat bahasa Jawa menjadi beberapa tingkat yaitu Ngoko, Madya Krama. Ada yang berpendapat budaya Jawa identik feodal dan sinkretik. Pendapat itu kurang tepat karena budaya feodal ada di semua negara termasuk Eropa. Budaya Jawa menghargai semua agama dan pluralitas sehingga dinilai sinkretik oleh budaya tertentu yang hanya mengakui satu agama tertentu dan sektarian.

Pengertian Jawa Tengah secara geografis dan budaya kadang juga mencakup wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Jawa Tengah dikenal sebagai "jantung" budaya Jawa. Meskipun demikian di provinsi ini ada pula suku bangsa lain yang memiliki budaya yang berbeda dengan suku Jawa seperti suku Sunda di daerah perbatasan dengan Jawa Barat. Selain ada pula warga Tionghoa-Indonesia, Arab-Indonesia dan India-Indonesia yang tersebar di seluruh provinsi ini.

 

Suku

Mayoritas penduduk Jawa Tengah adalah Suku Jawa. Jawa Tengah dikenal sebagai pusat budaya Jawa, di mana di kota Surakarta dan Yogyakarta terdapat pusat istana kerajaan Jawa yang masih berdiri hingga kini. Suku minoritas yang cukup signifikan adalah Tionghoa, terutama di kawasan perkotaan meskipun di daerah pedesaan juga ditemukan. Pada umumnya mereka bergerak di bidang perdagangan dan jasa. Komunitas Tionghoa sudah berbaur dengan Suku Jawa, dan banyak di antara mereka yang menggunakan Bahasa Jawa dengan logat yang kental sehari-harinya. Selain itu di beberapa kota-kota besar di Jawa Tengah ditemukan pula komunitas Arab-Indonesia. Mirip dengan komunitas Tionghoa, mereka biasanya bergerak di bidang perdagangan dan jasa. Di daerah perbatasan dengan Jawa Barat terdapat pula orang Sunda yang sarat akan budaya Sunda, terutama di wilayah Cilacap, Brebes, dan Banyumas. Di pedalaman Blora (perbatasan dengan provinsi Jawa Timur) terdapat komunitas Samin yang terisolir, yang kasusnya hampir sama dengan orang Kanekes di Banten.

 

Bahasa

Meskipun Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi, umumnya sebagian besar menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Bahasa Jawa Dialek Solo-Jogja dianggap sebagai Bahasa Jawa Standar. Di samping itu terdapat sejumlah dialek Bahasa Jawa; namun secara umum terdiri dari dua, yakni kulonan dan timuran. Kulonan dituturkan di bagian barat Jawa Tengah, terdiri atas Dialek Banyumasan dan Dialek Tegal; dialek ini memiliki pengucapan yang cukup berbeda dengan Bahasa Jawa Standar. Sedang Timuran dituturkan di bagian timur Jawa Tengah, di antaranya terdiri atas Dialek Solo, Dialek Semarang. Di antara perbatasan kedua dialek tersebut, dituturkan Bahasa Jawa dengan campuran kedua dialek; daerah tersebut di antaranya adalah Pekalongan dan Kedu. Di wilayah-wilayah berpopulasi Sunda, yaitu di Kabupaten Brebes bagian selatan, dan kabupaten Cilacap utara sekitar kecamatan Dayeuhluhur, orang Sunda masih menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-harinya.
Berbagai macam dialek yang terdapat di Jawa Tengah:
1.     dialek Pekalongan
2.     dialek Kedu
3.     dialek Bagelen
4.     dialek Semarang
5.     dialek Pantai Utara Timur (Jepara, Rembang, Demak, Kudus, Pati)
6.     dialek Blora
7.     dialek Surakarta
8.     dialek Yogyakarta
9.     dialek Madiun
10. dialek Banyumasan (Ngapak)
11. dialek Tegal-Brebes

 

 

Agama

Sebagian besar penduduk Jawa Tengah beragama Islam dan mayoritas tetap mempertahankan tradisi Kejawen yang dikenal dengan istilah abangan. Agama lain yang dianut adalah Protestan, Katolik, Hindu , Budha, Kong Hu Cu, dan puluhan aliran kepercayaan. Penduduk Jawa Tengah dikenal dengan sikap tolerannya. Sebagai contoh di daerah Muntilan, kabupaten Magelang banyak dijumpai penganut agama Katolik, dan dulunya daerah ini merupakan salah satu pusat pengembangan agama Katolik di Jawa. Provinsi Jawa Tengah merupakan provinsi dengan populasi Kristen terbesar di Indonesia.

Makanan khas Jawa Tengah

Nasi Gudeg


Teknologi

  • Arsitektur Jawa adalah bentuk bangunan khas yang dirancang oleh orang Jawa untuk berbagai fungsi. Diantaranya adalah rumah Jawa atau Joglo yang sangat unik bentuknya. Bentuk bangunan Jawa sangat dipengaruhi oleh agama Hindu, Buddha dan Islam. Arsitektur Jawa juga mengadaptasi bentuk bangunan TionghoaBelanda dan Arab. Sejak dahulu orang Jawa sudah pandai dalam membuat arsitektur hal ini terbukti dengan ditemukannya sejumlah candi monumental di Jawa seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Bahkan Jateng-DIY dan Jatim tercatat sebagai wilayah di Indonesia yang terbanyak memiliki candi dengan lebih dari 50 buah candi. Di Jawa juga banyak terdapat masjid yang merupakan akulturasi budaya Hindu dan Islam seperti Masjid Agung Demak.
    Rumah Joglo
Candi Prambanan
Kesenian
Seni Tradisional Jawa adalah karya seni yang diciptakan dan berasal dari Pulau Jawa, Indonesia. Beberapa contoh dari seni tradisional jawa antara lain tari gambyong. Kesenian tradisional dari Jawa ada berbagai macam, tetapi secara umum dalam satu akar budaya kesenian Jawa ada 3 kelompok besar yaitu Banyumasan (Ebeg), Jawa Tengah dan Jawa Timur (Ludrukdan Reog).
Ludruk

Tari






Sumber:
http://rezaafirmansyah.wordpress.com/2012/10/14/kebudayaan-jawa-tengah/
http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Jawa
http://kebudayaankesenianindonesia.blogspot.com/2011/05/kebudayaan-dan-kesenian-jawa-tengah.html

Percaya
Pratiwi Indy Lestari [18514495]

Satu kata yang membuat bulu kudukku merinding
Yang akan menggoreskan senyuman di wajahmu
Akankah kau pecaya?
Akankah kau mengerti?

Satu kata yang takkan sanggup diucapkan semua orang
Yang akan mengubah segalanya
Apakah kau masih percaya padaku?
Akankah kau pergi?
        Biarkan Gajah menjadi Gajah
Pratiwi Indy Lestari [18514495]


          Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis) adalah subspesies dari gajah asia yang hanya berhabitat di Pulau Sumatera. Gajah Sumatera mempunyai ukuran tinggi badan 1,7-2,6 meter. Jika dibandingkan dengan gajah afrika, gajah sumatera lebih kecil. Gajah sumatera adalah mamalia terbesar di indonesia, beratnya mencapai 6 ton. Herbivora raksasa ini sangat cerdas dan memiliki otak yang lebih besar dibandingkan dengan mamalia darat lainnya. Telinga yang cukup besar membantu gajah mendengar dengan baik dan membantu mengurangi panas tubuh. Belalainya digunakan untuk mendapatlan makanan dan air dengan cara memegang atau menggenggam bagian ujungnya yang digunakan seperti jari tangan untuk meraup. Gajah sumatera tinggal di dataran rendah, terutama di lokasi yang berdektan dengan sungai. Setiap hari ia mengkonsumsi 200 kg makanan. Makana tersebut akan menyisakan biji yang akan disebarkan dalam pengembaraan gajah yang bisa mencaai jarak 15 km setiap harinya. Gajah sumatera merupakan 'spesies payung' bagi habitatnya dan mewakili keaneka ragaman hayati di dalan ekosistem yang komplek tempat hidupnya. Artinya konservasi satwa besar ini akan membantu mempertahankan keragaman hayati dan integritas ekologi dalam ekosistemnya, sehingga akhirnya ikut menyelamatkan berbagai spesies kecil lainnya.

            Saat ini kondisi populasinya semakin menurun seiring dengan tingginya laju kehilangan hutan sumatera, hanya tersisa 2.400 hingga 2.800 individu gajah sumatera di alam. Kehidupan mereka terancam oleh perburuan. deforestasi, dan hilangnya habitat, serta konflik dengan manusia. Saat ini status gajah sumatera telah ditingkatkan dari 'genting' menjadi 'kritis' dalam daftar merah (Red List) yang dikeluarkan oleh Organisasi Internasional untuk Konsevasi Alam. 

          Banyak tindakan yang tidak manusiawi terhadap gajah seperti kejadian pada tahun lalu yang terjadi di Pekanbaru, bangkau empat ekor gajah ditemukan membusuk di areal perambatan dengan kondisi mengenaskan. Mereka tidak ditemukan dalam satu tempat yang sama tetapi tersebar di areal perambahan tersebut. Salah seorang saksi mengatakan pada saat ditemukan gajah tersebut masih ada nafasnya. Di Aceh juga ditemukan seekor anak gajah yatim piatu, Raju. Raju ditemukan warga desa Blang Pante kecamatan Paya Bakong Aceh Utara, sendirian di dalam hutan. Selama 25 hari Raju dalam perawatan Pusat Konservasi Gajah Saree, ia dalam pengawasan dokter hewan dan diasuh mahout (pawang) selama 24 jam. Raju diberi minum susu formula soya setiap dua jam. Harapan hidup Raju cukup besar diawal kedatangan di PKG Saree. Dia lincah, senang berjalan-jalan di halaman depan klinik gajah dan bermain bersama anak gajah, Agam. "Sejak awal kita punya harapan Raju akan berahan, melihat kondisi kesehatan membaik dan diare sudah hilang" kata Rossa, dokter hewan yang merawat Raju. Raju terus diare dan malnutrisi hingga mengalami dehidrasi. Berat badan menyusut hanya tinggal tulang berbalut kulit. Hingga akhirnya Raju mati setelah menghabiskan 13 botol infus. 

        Upaya yang sudah dilakukan pemerintah, dalam hal ini kementrian kehutanan berkerjasama dengan Taman Safari dan World Wide Fund (WWF), Taman Nasional Way Kambas merupakan taman nasional Pusat Konservasi Gajah yang terletak di Lampung, yang diharapkan mampu menjadi PKG dalam penjinakan, pelatihan, perkembangbiakan dan konsevasi. Hingga Sekarang PKG ini telah melatih sekitar 300 ekor gajah yang sudah dosebar ke seluruh penjuru tanah air. Pemerintah juga telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk melindungi dan melestarikan habitat gajah. Tetapi kebijakan itu dirasa belum cukup untuk melindungi gajah dengan dibuktinya banyak kasus-kasus gajah yang mati bahkan Taman Nasional Tesso Nilo pun terlah dirambah menjadi perkebunan kelapa sawit, disini terlihat sekali kurang ketatnya pengawasan dan perlindungan dan longgarnya regulasi yang dilakukan pemerintah.

          Setelah kita melihat fakta-fakta diatas gajah sumatera adalah fauna endemik indonesia yang harus dilindungi. Upaya konservasi gajah di Indonesia harus dapat lebih menyerap aspirasi masyarakat serta disesuaikan dengan agenda pembangunan di daerah. Oleh sebab itu, bisa dikatakan bahwa saat ini Indonesia belum memiliki strategi konservasi gajah yang komperhensif dan aktual. Perlu dilakukan pemuktakhiran strategi konservasi gajah di Indonesia. Stratergi konservasi dan rencana aksi secara nasional yang efektif dan aplikatif memerlukan informasi yang akurat, serta harus juga dapat menyerap aspirasi berbagai pihak supaya konservasi tidak menimbulkan kesan sebagai upaya yang menghambat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat, melainkan dapat berjalan selaras dan dapat mendukung agenda pembangunan daerah.

Sumber:
http://www.wwf.or.id/program/spesies/gajah_sumatera/
http://www.savesumatra.org/index.php/species/detail/2
http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_Way_Kambas